Ketentuan Puasa Bagi Orang Yang Tidak Mampu (Fiqih Puasa Bag. 7)

Ketentuan Puasa Bagi Orang Yang Tidak Mampu (Fiqih Puasa Bag. 7) | Sakuilmu.net - Kita sudah mengetahui beberapa ketentuan dan keringanan berpuasa bagi orang yang sakit, musafir, wanita yang sedang haid, nifas, hamil dan menyusui pada artikel sakuilmu sebelumnya. Lalu bagaimana ketentuan puasa bagi orang yang sudah tua sehingga tidak mampu lagi untuk berpuasa?

Pada kesempatan kali ini, kita akan mencoba menggali ilmu fiqih mengenai ketentuan puasa bagi orang yang sudah tidak mampu untuk melaksanakan ibadah puasa yang telah diwajibkan bagi kaum muslim.

Hukum Bagi Orang Yang Tidak Mampu Berpuasa Ramadhan

Hukum Bagi Orang Yang Tidak Mampu Berpuasa Ramadhan

Al-Imam as-Sa’di berkata, “Seorang yang tidak mampu lagi berpuasa karena lanjut usia atau karena penyakit yang tidak ada harapan sembuh, berkewajipan memberi makan seorang fakir miskin untuk setiap hari puasa (yang ditinggalkannya).”

Adapun orang yang tidak mampu lagi berpuasa ada dua golongan:

  1. Orang tua lanjut usia yang tidak mampu sama sekali berpuasa, atau merasakan beban yang sangat berat ketika berpuasa. Lanjut usia yang dimaksud di sini adalah yang belum mengalami kepikunan. Adapun yang telah pikun, sudah bukan mukallaf lagi.
  2. Penderita penyakit yang tidak ada harapan sembuh. Al-Imam Ibnu Utsaimin menerangkan bahawa hal ini berdasarkan diagnosis ahli medik yang terpercaya di bidangnya, atau berdasarkan keumuman yang terjadi bahawa penderita penyakit seperti itu biasanya tidak dapat sembuh.
Terhadap hukum bagi orang yang tidak mampu lagi mengerjakan ibadah puasa dibulan ramadhan karena usia lanjut atau karena sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh, ada perbedaan pendapat diantara ulama, yaitu :

  1. Sebahagian ulama berpendapat bahawa orang tersebut tidak diwajibkan berpuasa, tetapi diwajibkan membayar fidyah, sebagai ganti setiap hari puasa yang ditinggalkan. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah:

    “Bagi orang-orang yang mampu menjalankan puasa (terdapat pilihan) untuk membayar fidyah berupa memberi makan seorang fakir miskin.” (Al-Baqarah: 184)

    Ibnu Abbas berkata, “Ayat ini tidak dihapus (hukumnya). Yang dimaksud adalah lelaki dan wanita lanjut usia yang tidak mampu lagi untuk berpuasa, hendaklah keduanya memberi makan seorang fakir miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.” (HR Bukhari)

    Begitu juga hukumnya bagi orang sakit yang tidak ada harapan sembuh, kerana kesamaan makna yang ada pada keduanya. Hal ini telah difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai al-Imam Ibnu Baz. Juga fatwa al-Imam al-Albani, Ibnu Utsaimin dan al-Wadi’i. Ini pendapat yang benar.
  2. Sebahagian lainnya berpendapat bahawa orang yang tidak mampu lagi berpuasa, tidak diwajibkan melakukan qadha puasa dan tidak diwajibkan pula membayar fidyah, kerana ayat tersebut telah mansukh (dihapus) secara mutlak. Ini adalah pendapat al-Imam Malik, Abu Tsaur dan Dawud azh-Zhahiri. Namun pendapat ini lemah.
Demikian sobat Sakuilmu, bagaimana ketentuan puasa bagi orang tua yang sudah tidak mampu lagi untuk menjalankan ibadah puasa. Dimana ada keringanan bagi orang yang sudah tidak mampu lagi berpuasa karena usia lanjut dan yang sakit tidak ada harapan untuk sembuh. Namun dengan ketentuan untuk membayar fidyah.

Semoga bermanfaat...
Loading...

0 komentar