Ketentuan Niat Puasa (Fiqih Puasa Ramadhan Bag 4)

Niat Puasa (Fiqih Puasa Ramadhan Bag 4) | Sakuilmu.net - Assalamu'alaikum Sobat Sakuilmu.. Berjumpa kembali dengan artikel mengenai Fiqih Puasa Ramadhan. Pada bagian ke 4 ini, kita akan mempelajari bab mengenai niat puasa.

Di dalam Islam semua amal ibadah selalu didasari pada niat. Sebagaimana hadis yang terkait niat ini yaitu :


عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Demikian pula dengan ibadah puasa di bulan ramadhan ini. Namun dalam pelaksanaannya ada beberapa perbedaan pendapat terkait niat ibadah puasa ini. Seperti apa perbedaannya? Ada sebagian yang menyebutkan niat puasa setiap hari, tapi ada pula cukup niat sekali untuk puasa 1 bulan penuh. Untuk mengetahui lebih banyak mengenai niat puasa ramadhan ini, berikut ini sakuilmu menyajikan artikel yang kami rangkum dari beberapa sumber.

Niat adalah amalan kalbu. Oleh kerana itu, yang benar tidak diperintahkan melafazkan niat dengan lisan pada ibadah apa pun. Ketahuilah, suatu perkara yang dianggap agama padahal tidak pernah diajarkan oleh Nabi, bererti ianya perkara baru dalam agama.

Ketentuan Niat Puasa 

Al-Imam as-Sa’di berkata, “Wajib menetapkan niat di malam harinya (sebelum waktu subuh) untuk pelaksanaan puasa wajib. Adapun untuk puasa sunnah, diperbolehkan berniat di siang harinya.”

Terkait  niat puasa ramadhan yang merupakan puasa wajib, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, di malam hari sebelum tiba waktu subuh untuk pelaksanaan puasa wajib. Namun yang tepat adalah seseorang yang akan berpuasa wajib haruslah menetapkan niat puasanya itu di malam hari (sebelum tiba waktu subuh). Penetapan niat di malam hari itu hukumnya wajib dan termasuk syarat sahnya pelaksanaan puasa wajib. Berdasarkan dalil berikut:
  • “Amalan-amalan itu hanyalah (dilakukan) dengan niat, dan setiap orang hanyalah mendapatkan ganjaran dari apa yang diniatkannya.” (Muttafaq ‘alaih)
  • “Barang siapa tidak membulatkan tekad untuk berpuasa sebelum tiba waktu fajar (Subuh), tidak sah puasanya.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan lainnya)
Berbeda halnya tentang puasa sunnah. Puasa sunnah  boleh diniatkan selepas waktu fajar. Hal ini berdasarkan dalil ini:
Dari Aisyah, “Nabi pernah masuk menemuiku pada suatu hari, lalu bertanya, ‘Apakah kalian memiliki sesuatu (makanan)?’ Kami menjawab, ‘Tidak’. Baginda berkata, ‘Jika begitu, sungguh sekarang aku berpuasa’.” (HR Muslim)

Niat Sekali Untuk Puasa Sebulan Ramadhan


Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini:
  1. Puasa yang dijalan berturut-turut seperti Ramadhan, satu kali niat untuk berpuasa sebulan Ramadhan cukup untuk mewakili seluruh pelaksanaan puasanya, tanpa perlu berniat setiap harinya. Akan tetapi, jika ia sempat memutus puasa di antara hari-hari Ramadhan kerana uzur atau safar, ketika hendak memulai berpuasa kembali ia harus memperbaharui niat untuk sisa hari-harinya hingga akhir Ramadhan.
  2. Puasa Ramadhan diwajibkan memperbaharui niat puasa setiap hari. Alasannya, puasa di hari-hari Ramadhan adalah ibadah-ibadah yang berdiri sendiri dan tidak ada keterkaitan antara satu puasa dengan lainnya. Sebagai bukti, jika puasa di hari itu batal, hal itu tidak mempengaruhi keabsahan puasa di hari sebelumnya. Pendapat ini dianggap rajih (kuat) oleh al-Imam asy-Syaukani dan difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai al-Imam Ibnu Baz. Pendapat ini yang lebih berhati-hati dalam masalah ini. (Asy-Syarh al-Mumti’, 6/369-370)
Lalu bagaimana dengan lafaz niat puasa pada bulan ramadhan? Niat adalah amalan kalbu. Oleh karena itu, yang benar tidak diperintahkan melafazkan niat dengan lisan pada ibadah apa pun. Ketahuilah, suatu perkara yang dianggap agama padahal tidak pernah diajarkan oleh Nabi, berarti ia perkara baru dalam agama.

Demikian Sobat Sakuilmu, sekilas mengenai ketentuan niat puasa pada bulan ramadhan. semoga kita bisa lancar menjalankan ibadah pada bulan ramadhan tahun 2017 ini.

Sampai jumpa pada artikel kami selanjutnya, masih seputar ramadhan.
Loading...

0 komentar