Ketentuan Membayar Fidyah (Fiqih Puasa Ramadhan Bag. 8)

Ketentuan Membayar Fidyah (Fiqih Puasa Ramadhan Bag. 8) | Sakuilmu.net - Jika Sobat sudah membaca artikal sakuilmu sebelumnya mengenai ketentuan - ketentuan puasa sebagai berikut :
a. Bagi orang sakit dan musafir
b. Bagi wanita yang sedang haid, nifas, hamil dan menyusui
c. Bagi orang yang tidak mampu puasa karena usia lanjut dan sakit yang tidak ada harapan sembuh

Dalam artikel tersebut sudah disinggung mengenai fidyah. Seperti apakah fidyah tersebut? bagaimana ketentuan pembayarannya? mari kita simak penjelasan dibawah ini :

Ketentuan Membayar Fidyah (Fiqih Puasa Ramadhan Bag. 8)


1. Pengertian Fidyah


Fidyah merupakan pengganti puasa bagi orang tua yang tidak kuat puasa lagi atau wanita hamil/menyusui. Besaran fidyah itu adalah satu mud dengan mud nabi. Setiap satu mud digunakan untuk membayar puasa yang ditinggalkan selama sehari. Maka kalau tidak puasa selama 30 hari, membayar 30 mud. Namun Allah memberi kemudahan dalam melaksanakan berdasarkan firman Allah SWT :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [٢:١٨٥]


(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

2. Nilai Fidyah dan Cara Membayar Fidyah



a. Nilai / Ukuran Fidyah

Dalam membayarkan fidyah, ada perbedaan pandangan dari beberapa ulama.


  1. Jumhur (maoritas) ulama berpendapat bahwa kadar fidyah adalah satu mudd dari jenis makanan pokok apa saja. Sedangkan sebagian ulama lainnya berpendapat bahawa kadar fidyah adalah setengah sha’ dari jenis makanan pokok apa saja, berdasarkan penyamaan hukum dengan fidyah al-Adza pada ibadah haji secara qiyas. Pendapat ini difatwakan oleh al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai al-Imam Ibnu Baz.

    Satu sha’ senilai dengan empat mudd. Jadi fidyah dengan setengah sha’ senilai dengan dua mudd. Menurut al-Lajnah Da’imah, satu sha’ dalam ukuran timbang, kurang lebih 3kg. Manakala menurut al-Imam Ibnu Utsaimin kurang lebih 2.10kg beras atau 2.04kg gandum burr.

    Fidyah al-Adza adalah yang disebutkan dalam hadits Ka’ab bin Ujrah tatkala ia menunaikan haji dan terganggu oleh kutu di kepalanya. Rasulullah memerintahkan untuk mencukur rambut kepalanya dengan memberi tiga pilihan sebagai tebusannya. Di antaranya baginda mengatakan:
    “Atau engkau memberi makanan kepada enam orang fakir miskin, untuk setiap orang setengah sha’.” (Muttafaq ‘alaih)
  2. Ada pula berpendapat tidak ada ketentuan kadar / nilai tertentu dalam pembayaran fidyah. Dengan dalil bahwa Allah memerintahkan pembayaran fidyah secara mutlak tanpa membatasinya dengan kadar tertentu. Maka dari itu, sah dibayarkan dengan kadar yang dianggap cukup dalam pemberian makanan menurut tuntutan kebiasaan masyarakat.
    Pendapat ini yang rajih (terkuat) sebagaimana dinyatakan al-Imam Ibnu Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti (6/349-350). Ini berdasarkan perbuatan sahabat, Anas bin Malik yang telah lanjut usia, beliau mengumpulkan tiga puluh orang fakir miskin dan memberi mereka roti dan lauknya.

    “Anas telah membahgikan makanan fidyah setelah ia lanjut usia dalam setahun atau dua tahun, kepada seorang fakir miskin untuk setiap harinya berupa roti dan daging. Ia pun berbuka (tidak mampu berpuasa).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq dalam Kitab ash-Shahih dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an, Bab Qauluhu Ta’ala: أَيَّامًامَّعْدُودَتٍ)

b. Cata Membayar Fidyah


Perlu diketahui bahwa tidak boleh fidyah yang diwajibkan bagi orang yang berat berpuasa diganti dengan uang yang senilai dengan makanan karena dalam ayat dengan tegas dikatakan harus dengan makanan. Allah Ta’ala berfirman, فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ “Membayar fidyah dengan memberi makan pada orang miskin.” Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah mengatakan, “Mengeluarkan fidyah tidak bisa digantikan dengan uang sebagaimana yang penanya sebutkan. Fidyah hanya boleh dengan menyerahkan makanan yang menjadi makanan pokok di daerah tersebut. Kadarnya adalah setengah sho’ dari makanan pokok yang ada yang dikeluarkan bagi setiap hari yang ditinggalkan. Setengah sho’ kira-kira 1½ kg. Jadi, tetap harus menyerahkan berupa makanan sebagaimana ukuran yang kami sebut. Sehingga sama sekali tidak boleh dengan uang. Karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Membayar fidyah dengan memberi makan pada orang miskin.” Dalam ayat ini sangat jelas memerintah dengan makanan.”

Inti pembayaran fidyah adalah mengganti satu hari puasa yang ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin. Namun, model pembayarannya dapat diterapkan dengan dua cara, yaitu :


  • Memasak atau membuat makanan, kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari-hari yang ditinggalkan selama bulan Ramadhan. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Anas bin Malik ketika beliau sudah menginjak usia senja (dan tidak sanggup berpuasa)
  • Memberikan kepada orang miskin berupa makanan yang belum dimasak. Alangkah lebih sempurna lagi jika juga diberikan sesuatu untuk dijadikan lauk. Pemberian ini dapat dilakukan sekaligus, misalnya membayar fidyah untuk 20 hari disalurkan kepada 20 orang miskin. Atau dapat pula diberikan hanya kepada 1 orang miskin saja sebanyak 20 hari.

c. Waktu Membayar Fidyah

Seseorang dapat membayar fidyah, pada hari itu juga ketika dia tidak melaksanakan puasa. Atau diakhirkan sampai hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik ketika beliau telah tua.

Yang tidak boleh dilaksanakan adalah pembayaran fidyah yang dilakukan sebelum Ramadhan. Misalnya: Ada orang yang sakit yang tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya, kemudian ketika bulan Sya’ban telah datang, dia sudah lebih dahulu membayar fidyah. Maka yang seperti ini tidak diperbolehkan. Ia harus menunggu sampai bulan Ramadhan benar-benar telah masuk, barulah ia boleh membayarkan fidyah ketika hari itu juga atau bisa ditumpuk di akhir Ramadhan.

Demikian Sobat Sakuilmu, informasi seputar ketentuan membayar fidyah. Semoga bermanfaat

Sumber :
https://rumaysho.com/1140-cara-pembayaran-fidyah-puasa.html
https://t.me/thoriqussalaf
Loading...

0 komentar